Jakarta, 6 Januari 2026 — Persatuan Tarung Campuran Indonesia (PB PERTACAMI) resmi menyiapkan 11 atlet terbaik untuk mengikuti 3rd AMMA Championships 2026 yang digelar di Luzhou, China. Ajang ini sekaligus menjadi babak kualifikasi Asian Games 2026 yang akan digelar di Aichi dan Nagoya, Jepang pada September – Oktober 2026 mendatang.

Masuknya MMA ke dalam Asian Games bukan sekadar debut cabang olahraga, melainkan pengakuan atas perkembangan MMA sebagai disiplin olahraga kompetitif yang terstruktur dan berstandar olimpiade. Asian Games menjadi panggung penting untuk menunjukkan kesiapan MMA Asia bersaing di level multi- event tertinggi.
Sebanyak 11 atlet MMA Indonesia akan mewakili Merah Putih pada Asian Games Aichi dan Nagoya, Jepang 2026, yang terdiri atas nomor Traditional MMA dan Modern MMA sebagai berikut:
Traditional MMA:
1. Alfiandi – Traditional MMA 60 kg
2. Eugene Darrien Djubair – Traditional MMA 65 kg
3. Delvi Nurfadilah – Traditional MMA 49 kg
4. Dwi Ani Retno Wulan – Traditional MMA 54 kg
5. Yusni Nurhayati Hutasoit – Traditional MMA 60 kg
Modern MMA:
1. Riswan Efendi Hutabalian- Modern MMA 56 kg
2. Jon Setiawan Saragih – Modern MMA 60 kg
3. Albert – Modern MMA 65 kg
4. Novia Pesik – Modern MMA 49 kg
5. Vallensia Fahira Hotmauli – Modern MMA 54 kg
6. Maydelse Sitepu – Modern MMA 60 kg
Delegasi Indonesia akan dipimpin langsung oleh Sekjen PB. PERTACAMI Ir. Rafiq Hakim Radinal, didampingi oleh Tim Pelatih yang terdiri dari Marcos De Mello Machiado dan Muhammad Fadli. Di momen yang sama Indonesia juga mengirim salah satu pelatih pelatnasnya, Agung Maulana, sebagai wasit.
Ketua Umum PB. PERTACAMI sekaligus Presiden GAMMA (Global Association of Mix Martial Arts) Tommy Paulus Hermawan, menyampaikan bahwa kontingen ini disiapkan melalui seleksi berdasarkan performa teknis, kesiapan fisik, serta pengalaman bertanding di level internasional.
“Setelah melewati uji coba pada SEA Games 2025 Thailand yang berlangsung pada Desember 2025 lalu, ASIAN Games 2026 mendatang merupakan panggung multievent yang penting dalam kaitannya dengan perjalanan cabang olahraga MMA menuju pengakuan IOC. Kami membawa atlet-atlet yang sudah memiliki rekam jejak kuat di kejuaraan dunia. Kami optimistis bisa membawa pulang prestasi terbaik dan mengharumkan Indonesia,” ujar Tommy.

Sejak awal 2025, atlet-atlet binaan PB PERTACAMI telah menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas) secara intensif di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta. Program pelatnas ini menerapkan pendekatan sport science yang terukur dan terpadu, mencakup pengembangan teknik, peningkatan kondisi fisik dan daya tahan, strategi bertanding, serta pembinaan mental atlet.
Untuk memastikan atlet berada pada kondisi puncak menjelang pertandingan, PB PERTACAMI juga membentuk tim dokter nutrisi guna menjaga kebutuhan gizi, stamina, serta pencapaian berat badan ideal sesuai dengan ketentuan masing-masing nomor pertandingan. Asupan nutrisi setiap atlet disesuaikan secara individual agar performa optimal dapat tercapai.
Dalam kualifikasi Asian Games 2026, PB PERTACAMI menargetkan hasil maksimal dengan meloloskan sebanyak mungkin atlet dari nomor-nomor yang memiliki potensi besar meraih prestasi.
“Kami berharap besar dan percaya penuh bahwa para atlet siap berjuang serta lolos kualifikasi. Kepercayaan diri PB PERTACAMI juga diperkuat oleh capaian gemilang pada SEA Games 2025 Thailand, di mana Indonesia mengirimkan enam atlet MMA dan seluruhnya berhasil meraih medali. Prestasi tersebut mencatatkan 100 persen tingkat keberhasilan, dengan perolehan 1 medali emas, 4 medali perak, dan 1 medali perunggu. Performa pada SEA Games 2025 lalu menjadi bukti kesiapan atlet MMA Indonesia. Enam atlet bertanding, enam medali kami raih. Ini bukan hanya prestasi, tetapi juga validasi dari sistem pembinaan yang kami jalankan,” ujar Tommy.

“Kami percaya kerja keras atlet akan terbayar di arena pertandingan. Dukungan publik Indonesia akan menjadi bagian dari perjalanan penting MMA nasional ke level berikutnya,” tutup Tommy.
SEAMMA dan Konsolidasi Masa Depan MMA Asia Tenggara

Dalam rangkaian SEA Games 2025 lalu di Thailand, PB PERTACAMI bersama federasi MMA negara-negara Asia Tenggara juga mencatatkan sejarah penting melalui pembentukan SEAMMA (South East Asian MMA), sebuah aliansi regional resmi MMA Asia Tenggara. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) SEAMMA dilaksanakan pada 11 Desember 2025 di MCC Hall, The Mall Ngamwongwan, Bangkok, Thailand.
SEAMMA dibentuk berdasarkan visi jangka panjang para pimpinan federasi MMA Asia Tenggara yang melihat pesatnya pertumbuhan MMA di kawasan, namun masih berjalan secara terfragmentasi di masing-masing negara. Melalui SEAMMA, MMA Asia Tenggara kini memiliki kerangka kolaborasi regional yang terstruktur dan terkoordinasi.
MoU SEAMMA ditandatangani oleh para pimpinan federasi nasional MMA dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Thailand, yang menjadi jajaran pendiri sekaligus kepemimpinan eksekutif awal organisasi tersebut. SEAMMA mengadopsi model kepemimpinan kolektif dengan struktur yang menjamin keseimbangan regional, transparansi, serta partisipasi setara seluruh negara anggota.
SEAMMA adalah langkah strategis untuk menyatukan MMA Asia Tenggara dalam satu ekosistem regional. Ini bukan sekadar organisasi, tetapi platform kolaborasi untuk standarisasi regulasi, pengembangan atlet, peningkatan kualitas wasit dan pelatih, hingga penguatan posisi Asia Tenggara dalam tata kelola MMA global,” jelas Dr. Sirichet Punthipayanon, Presiden Thailand Association of MMA (TAMMA).
Menurut Punthipayanon, dalam melangkah ke depan, SEAMMA telah menyiapkan sejumlah agenda strategis, antara lain penyelenggaraan Kejuaraan MMA Asia Tenggara, pembentukan sistem akreditasi wasit dan pelatih regional, pengembangan jalur pembinaan atlet berjenjang dari usia muda hingga profesional, serta dukungan penuh terhadap inklusi MMA dalam program SEA Games dan Asian Games.
Tommy Paulus Hermawan, memandang pembentukan SEAMMA sebagai langkah strategis dalam memperkuat fondasi MMA di tingkat regional Asia Tenggara, khususnya dalam konteks tata kelola olahraga internasional. “Dalam perjalanan MMA menuju pengakuan Olimpiade, konsistensi struktur dan standarisasi menjadi kunci. Kehadiran SEAMMA memungkinkan negara-negara Asia Tenggara bergerak dalam satu kerangka yang selaras — baik dari sisi regulasi, keselamatan, pembinaan atlet, hingga sistem kompetisi. Ini adalah elemen penting yang dibutuhkan agar MMA dapat dinilai sebagai olahraga yang matang dan berkelanjutan di mata komunitas olahraga global,” ujar Tommy.





